PERBEDAAN MORFOLOGI SEL DARAH PADA PEMERIKSAAN HAPUSAN DARAH TEPI DENGAN PEWARNAAN GIEMSA MENGGUNAKAN LARUTAN PENGENCER BUFFER PHOSPHAT DAN LARUTAN PENGENCER AQUABIDEST

  • Museyaroh Museyaroh Jurusan Teknologi Laboratorium Medis Poltekkes Kemenkes Surabaya, Indonesia
  • Musholli Himmatun Nabilah Jurusan Teknologi Laboratorium Medis Poltekkes Kemenkes Surabaya, Indonesia
  • Lully Hanni Endarini Jurusan Teknologi Laboratorium Medis Poltekkes Kemenkes Surabaya, Indonesia
Keywords: hapusan darah tepi, giemsa, buffer phospate, aquabidest

Abstract

Pemeriksaan Hapusan darah tepi (HDT) merupakan pemeriksaan untuk melihat morfologi sel-sel darah secara mikroskopis. Salah satu metode pemeriksaan hapusan darah tepi yang sering digunakan adalah pewarnaan giemsa. Pengenceran larutan giemsa secara teoritis menggunakan larutan penyangga buffer phosphat. Pengenceran giemsa sering menggunakan larutan buffer phosphat karena buffer phosphat mudah didapatkan, namun harganya cukup mahal. Kandungan phosphat yang melebihi batas 2 mg/L juga dapat berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem perairan sehingga dapat mencemari lingkungan bila terus digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan morfologi sel-sel darah pada pemeriksaan HDT dengan pewarnaan giemsa menggunakan larutan buffer dan aquabidest dalam upaya penentuan larutan alternatif yang bisa digunakan sebagai larutan pengencer giemsa yang lebih murah dan mudah didapatkan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan studi cross sectional yang membandingkan kualitas morfologi sel darah sediaan HDT dengan pewarna giemsa yang diencerkan dengan buffer phosphate dan aquabidest. Sampel diambil dari 1 orang koresponden penelitian, untuk kemudian dibuat sediaan HDT masing-masing sebanyak 17 buah (pengencer buffer phosphat), dan 22 buah (pengencer aquabidest), dan diamati dengan mikroskop perbesaran lensa objektif 100x. Kualitas sediaan HDT giemsa dengan pengencer buffer phosphat menunjukkan hasil “baik” sebanyak 13 buah (76,47%), dan hasil “kurang baik” sebanyak 4 buah (23,53%), sedangkan kualitas sediaan HDT giemsa dengan pengencer aquabidest menunjukkan hasil “baik” sebanyak 18 buah (81,82%), dan hasil “kurang baik” sebanyak 4 buah (18,18%). Berdasarkan uji Mann-Whitney U, didapatkan P-Value 0,222. Kualitas sediaan HDT pewarnaan giemsa dengan pengencer buffer phosphat tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan yang menggunakan pengencer aquabidest (p>0,05).

References

[1] Adianto, W. Perbedaan Morfologi Sel Darah Pada Pengecatan Giemsa Yang Diencerkan Menggunakan Aquades Dan Buffer pH 6,8. Karya Tulis Ilmiah. Universitas Muhammadiyah Semarang. 2013.
[2] Anwar, Ilmiaty Nur Aini Uslafiah., Hartini, Supri., Prihandono, Dwi Setiyo. Gambaran Pewarnaan Giemsa, Wright Dan Wright-Giemsa Pada Slide Apusan Darah Tepi. E Journal Analis Poltekkes Kaltim. 2023.
[3] Ardina R., Sherly R. Morfologi eosinofil pada apusan darah tepi menggunakan pewarnaan giemsa, wright, dan kombinasi wright-giemsa. Jurnal surya medika. Vol 3, no 2, p : 5-12. 2018.
[4] Arif, M. Penuntun Praktikum Hematologi. Makassar: Fakultas Kedokteran UNHAS. 2015.
[5] Barcia, J.J. The Giemsa Stain: Its History and Applications. International Journal of Surgical Pathology.Vol 15, no 3 , p 292- 296. 2007.
[6] Bell, A., Sallah, S. The Morphology of Human Blood Cells – Seventh Edition. Memphis : Division of Hematology, University of Tennessee Health Science Center. 2005.
[7] Darmadi., & Hutawuruk d. Perbedaan hasil pewarnaan sediaan apus darah tepi menggunakan buffer phosphat ph 6,4 dan nacl 0,9%. Prosiding kongres aiplmi : 121-126. 2022. Https://prosiding.aiptlmi-iasmlt.id/index.php/prosiding/article/view/118.
[8] DepKes RI. Pedoman Teknik Dasar Untuk Laboratorium Kesehatan . 2007.
[9] Ervana, N D. 2017. Gambaran Morfologi Sel Eosinofil Pada Pewarnaan Giemsa Dengan Variasi Jenis Larutan Pengencer. Karya Tulis Ilmiah. Poltekkes Kemenkes Semarang.
[10] Faradisa, TF., & Hartono, N. Gambaran kualitas preparat apusan darah pewarnaan wright dengan buffer phosphat ph 6,4 dan buffer aquabidest.Karya Tulis Ilmiah, Poltekkes Kemenkes Semarang. 2022.
[11] Gandasoebrata, R. .Penuntun Laboratorium Klinik. Jakarta: Dian Rakyat. 2007.
[12] Ghofur, Abdul., Suparyati, Tuti., Fatimah, Siti. Pengaruh Variasi Waktu Fiksasi Sediaan Apus Darah Tepi (SADT) pada Pengecatan Giemsa terhadap Morfologi Sel Darah Merah. Jurnal Kebidanan Harapan Ibu Pekalongan. Vol 9, no 1. 2022.
[13] Handayani W., Hariwibowo, A.S. Asuhan Keperawatan Pada Klien. 2008.
[14] Harr RR. Resensi Ilmu Laboratorium Klinis. EGC. 2013
[15] Hidayah, Alifah N. Perbandingan berbagai metode pengeringan preparat sebelum pengecatan terhadap morfologi sel darah merah (erythrocyte) pada apusan darah tepi. Karya tulis Ilmiah, universitas muhammadiyah surabaya. 2019.
[16] Jane, B, B. Hematology Kurikulum Inti. Jakarta: Buku Kedokteran EGC. 2014.
[17] Kiswari R, Hematologi dan Transfusi. Jakarta: Erlangga. 2014.
[18] Nugraha, G. Panduan Pemeriksaan Laboratorium Hematologi Dasar. Jakarta: Trans Info Media. 2015.
[19] Oehadian, A. Pendekatan Klinis dan Diagnosis Anemia. Continuing Medical Education, Vol 39, no 6, p 407-412. 2012.
[20] Palmer, L., C. Briggs, S. McFadden, G. Zini, J. Burthem, G. Rozenberg, M. Proytcheva, and S. J. Machin. ICSH Recommendations for The Standardization of Nomenclature And Grading of Peripheral Blood Cell Morphological Features. International Journal of Laboratory Hematology. vol 37, no 3, p 287-303. 2015.
[21] Paul Monagle. Haemostasis: Methods and Protocols, Methods in Molecular Biology, vol. 992. New York: Springer Science & Business Media. 2013.
[22] Rahmah, S. Perbedaan kualitas hasil pewarnaan sediaan darah metode wright menggunakan air pdam, aquadest dan buffer ph standar 6,8. Karya tulis ilmiah, akademi kesehatan borneo lestari banjarbaru. 15-21. 2017.
[23] Rahmah, S. Perbedaan Kualitas Pewarnaan Sediaan Darah Metode Wright Menggunakan Air PDAM, Aquabidest dan Buffer pH Standar 6,8. Karya Tulis Ilmiah Akademi Kesehatan Borneo Lestari Banjarbaru.15-21. 2017.
[24] Riswanto. Pemeriksaan Laboratorium Hematologi. Alfamedia dan Kanal Medika: Yogyakarta. 2013.
[25] Riyanti, M. E. Deteksi dan Klasifikasi Penyakit Anemia (Defisiensi Besi, Hemolitik dan Hemoglobinopati) Berdasarkan Struktur Fisik Sel Darah Merah Menggunakan Pengolahan Citra Digital. Karya Tulis Ilmiah, Institut Teknologi Telkom. 2009.
[26] Santosa, Budi. Differential Counting Berdasarkan Zona Baca Atas Dan Bawah Pada Preparat Darah Apus. Jurnal Universitas Muhammadiyah Semarang. 2010.
[27] Sophia., Anggun., Suraini. Efektivitas Aquabidest Dan Limbah Air Ac Sebagai Pelarut Media SDA untuk Pertumbuhan Candida albicans. Jurnal Biologi Makassar. 2023.
[28] Warsita N, Zainal F, Pancawati A. Pengaruh lama penundaan pengecatan setelah fiksasi apusan darah tepi terhadap morfologi eritrosit. Jurnal analis medika nio Sains. vol 6, no 2, p 25-129. 2019.
[29] Wedhaswara, Ajeng Galih, Pengaruh Penundaan Pembuatan Preparat Apusan Darah Tepi Pada Sampel EDTA Terhadap Morfologi Sel Darah Merah. Skripsi, Universitas Muhammadiyah Semarang. 2018
[30] Widyastuti, Rahma. Modul praktikum hematologi 2. Surabaya : Laboratorium patologi klinik universitas muhammadiyah surabaya. 2019. Diakses dari Http://repository.um-surabaya.ac.id/4809/1/modul_hematologi_2.pdf
[31] Yunus R., Astina, Fina., Fonnie E., Hasan. Analisis kualitatif morfologi eritrosit pada apusan darah edta (ethylene diamine tetraacetic acid) untuk pemeriksaan segera (0 jam) dan pemeriksaan ditunda (2 jam). Borneo journal of medical laboratory technology. Vol 5, no 7 p 326 – 334 2022.
Published
2024-06-20